Senin, 14 November 2011

Antara Kesetiaan dan Ketulusan


                Semua berawal dengan indah. Memberikan senyuman dan kasih sayang. Dalam sebuah hubungan kita mengenal cinta, kasih dan sayang. Tak ada yang lebih spesial dari semua itu. Apapun hubungan itu. Memberi yang terbaik, memberi kebahagiaan. Dan terlalu rumit untuk berbicara penghianatan. Hidup ini terlalu bahagia dan indah untuk sebuah penghianatan.
                Semua berawal dengan cinta, kasih dan sayang. Bertemu dengannya, membuat hari lebih indah. Tak perlu ada kata derita. Cinta, kasih dan sayang cukup indah. Mencintai dengan hati, menyayangi dengan kasih dan sayang, cukup mewakili segenap perasaan. Hari – hari lebih indah, dibuat mabuk asmara. Tak jelas mata memandang, hanya terisi butiran cinta yang memadati setiap sudut ruang angan. Begitulah cinta, kasih dan sayang berbicara. Bahagia dan indah.
                Tak cukup tersenyum menatap angan, tak cukup tersenyum meraba cinta, tak cukup bersanding dengan bahagia. Semua terasa indah, saat itu.
                Aku pernah merasakan terjatuh dalam lubang cinta. Sakit yang kurasa, bukan bahagia. Aku tak mengerti awalnya, sesal yang kurasa. Tapi sahabatku bilang, aku adalah pria terbodoh yang pernah dia kenal. Aku bingung mencerna kata – kata itu. Pikiranku terus berlari, tak ada rasa lelah yang terasa. Hanya ingin mengerti maksud dari kalimat itu.
                Cinta itu indah, sebenarnya. Selalu memberi senyuman dalam situasi apapun. Bahagia atau derita, ada senyuman didalamnya. Semakin membuat aku gila, membaca setiap kata yang pernah aku tulis. Semua itu hanya arti kata yang tak pernah bermakna, aku menjawab tanya hati kecil yang menyelinap masuk dalam pikiranku dan terus menggangku. Aku semakin tak mengerti, dan tak pernah mengerti.
                Wanita jawab sahabatku, tersenyum dia menatapku. Aku mulai berpikir saat itu, wanita. Ya, aku pernah menjalin hubungan dengan wanita, aku pernah berpacaran. Aku merasa bahagia, memiliki seorang kekasih. Aku memiliki seseorang yang memperhatikanku lebih, selain kedua orang tuaku. Aku merasa nyaman saat itu. Perasaanku galau saat dia terdiam menatap ujung sepatu yang dikenakannya. Ada masalah mungkin, jawabku menenangkan pikiran. Dari itu aku belajar berbagi, aku bercerita isi hati pada kekasihku. Dia juga seperti itu. Aku mulai mengenal sosok wanita, selain ibuku.
                Memberi perhatian pada wanita itu anugrah dari Tuhan. Aku merasa bangga bisa memberi kenyamanan. Aku merasa menjadi seorang pria yang sempurna. Aku menghadirkan pesona dalam setiap kata – kata yang mulai kutulis kembali, karena kini aku sedikit lebih mengerti tentang sosok wanita.
                Setiap kata cinta kutulis dan kupersembahkan hanya untuk dia, wanita. Ribuan wanita menghiasi otakku. Ratusan wanita tersenyum untuk kata cintaku. Puluhan wanita mengisi kehidupanku. Aku menggila, dan tergila – gila oleh wanita. Aku ingin memiliki setiap hati mereka, wanita. Tanpa sadar dan sombong aku memiliki semua itu.
                Waktu dan hidup terus berjalan. Aku terbiasa dengan keadaanku, namun tidak dengan sahabatku. Dia menatapku sinis, seakan marah dan kecewa denganku. Sedang dalam masalah pikirku, namun semakin lama tatapan itu semakin tajam. Aku mulai bingung dengan sikapnya. Aku lagi – lagi tak bisa mengartikan maksudnya. Pikiranku terus berlari, tak ada rasa lelah yang terasa. Hanya ingin mengerti maksudnya.
                Mencintai dengan tulus itu harus setia, dia berkata. Kali ini aku mengerti yang dimaksudnya. Tapi aku tak bangga bisa mengartikannya. Aku terdiam, menyesal menyadari semuanya. Aku benar – benar mengerti apa yang dimaksud oleh sahabtku itu. Aku mulai berubah saat itu, aku mulai mencerna arti kata kesetiaan dan ketulusan.
                Aku tulus mencintaimu tapi maaf aku tak setia menjagamu, tak setia menjadikanmu lebih baik seperti janjiku, ucap sahabatku. Terdiam aku menundukkan kepala.  Sedang aku tak pernah memiliki kesetiaan dan ketulusan. Tak pernah terpikir olehku saat itu, tentang perasaan. Ternyata yang aku mengerti tentang wanita hanya sekecil ujung kuku. Aku tak pernah mengerti rasa dari perasaan mereka, aku hanya bangga memilikinya dan aku pikir mereka juga merasa seperti itu.
                Pria sejati, bukan label untuk seorang pecinta wanita. Pecundang lebih tepatnya. Tanpa sadar wajahku tercoreng kelakuanku sendiri, yang kupikir itu adalah sebuah prestasi membanggakan. Ternyata aku salah. Salah besar aku mengartikan kalimat yang diucakpan sahabat terbaikku itu.
                Aku mengingat kembali masa indah saat bersama dengan kekasihku. Aku tak melihat senyum manisnya lagi saat dia bertemu denganku sekarang. Mungkin, aku menyakitinya dulu. Dan berapa orang yang telah sakit karena aku. Sebesar apa sakit yang mereka rasa karena aku. Aku tidak akan pernah tahu. Karena aku adalah pecundang. Hanya sesal yang aku rasa, aku bodoh.
                Belajar dari kesalahan aku mulai mengerti arti kesetiaan dan ketulusan. Sahabatku adalah seorang wanita. Beruntung aku memiliki sahabat sepertinya. Aku tak pernah mengharap apapun darinya, dia juga tak pernah menuntut apapun padaku. Kesetiaan dan ketulusan telah aku miliki bersamanya, sahabatku. Hingga aku tak mengerti rasa yang dimilikinya padaku. Aku menyiksanya selama ini, dia tersiksa oleh curahan hatiku. Aku menyakitinya lagi, dengan tak berkata jujur bahwa aku mencintainya. Aku setia dan tulus menjadi sahabatnya.
 Aku tulus mencintaimu, tapi maaf aku tak setia menjagamu, ucapku pada sahabatku. Aku tak bisa setia menjaganya dalam kehidupanku, aku tak ingin dia sakit lagi karena kebodohanku dan sikap pecundangku.
Aku bersyukur, kini dia bahagia dengan pria baik yang dia pilih untuk menemani hidupnya. Sedang aku, mengerti arti kesetiaan dan ketulusan.
Banyuwangi, 2 April 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar